Karya Tulis Ilmiah-Diagnosis Penyebab Kesalahan Dalam Perkalian Susun Ke Bawah Cara Pendek di Kelas IV

 

 

KARY TULIS ILMIAH

 

DIAGNOSIS PENYEBAB KESALAHAN DALAM PERKALIAN

SUSUN KE BAWAH CARA PENDEK DI KELAS IV

 

 

DISUSUN UNTUK MELENGKAPI MATA KULIAH

DI SEMESTER VII

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

SULASTRI SUSILAWATI

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PJJ UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA – BOGOR

TAHUN 2011

 

 

DIAGNOSIS PENYEBAB KESALAHAN DALAM PERKALIAN

SUSUN KE BAWAH CARA PENDEK DI KELAS IV

 

 

A.    Latar Belakang

Pembelajaran Matematika merupakan pembelajaran yang banyak kurang disukai oleh peserta didik, baik dikalangan sekolah dasar maupun dikalangan menengah. Matematika merupakan pelajaran yang ditakuti oleh banyak siswa. Hasil diskusi dengan guru-guru merasa kesulitan dalam menumbuhkan rasa senang terhadap pembelajaran matematika bagi peserta didiknya mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI.

Keluhan tersebut menjadi terbukti bila dikaitkan dengan hasil ulangan siswa kelas IV SDN Kembangkuning yang melakukan banyak kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal tentang perkalian susun ke bawah dengan cara pendek.  Dari 40 orang siswa yang masing-masing mengerjakan 10 soal didapat data sebagai berikut.

  • Terdapat 4 siswa yang menjawab salah 1 soal
  • Terdapat 5 siswa yang menjawab salah 2 soal
  • Terdapat 7 siswa yang menjawab salah 3 soal
  • Terdapat 6 siswa yang menjawab salah 4 soal
  • Terdapat 4 siswa yang menjawab salah 5 soal
  • Terdapat 14 siswa yang menjawab salah lebih dari 5 soal

Setelah dilakukan kajian terhadap hasil pekerjaan siswa ternyata siswa banyak melakukan kesalahan terutama pada soal-soal yang hasil perkaliannya lebih dari 10 sehingga harus digunakan teknik memindah (teknik menyimpan). Kesalahan-kesalahan tersebut dapat dirangkumkan sebagai berikut.

  • Siswa melakukan kesalahan karena tidak menguasai fakta dasar perkalian.

        948

72

1696        (2 ´ 9 = 16)

6636

68056

Contoh-1

408

6

3048      (6 ´ 4 = 30)

 

 

Siswa melakukan kesalahan dalam menentukan hasil perkalian yaitu:

6 ´ 4 = 30

2 ´ 9 = 16

  • Siswa melakukan kesalahan dalam perkalian dengan bilangan nol.

        408

6

2508

Contoh-2

709

68

5752

431

48892

Siswa salah dalam menentukan hasil perkalian dengan bilangan nol.

Dalam pemikiran siswa suatu bilangan bila dikalikan dengan bilangan nol hasil kalinya adalah bilangan itu sendiri.

  • Siswa melakukan kesalahan karena tidak memahami algoritma perkalian 2 bilangan cacah susun ke bawah dengan cara pendek.

98

(satuan dikalikan satuan kemudian puluhannya dijumlahkan)

(satuan dikalikan satuan, puluhan dikalikan puluhan)

69

72

540

612

 

  • Siswa melakukan kesalahan karena tidak menguasai nilai tempat.

          81

90

00

729

729

697

47

4879

2788

7667

 

  • Senada dengan masalah di atas Ashlock (1990: 65-68) juga menyampaikan pola kesalahan siswa dalam mengerjakan soal tentang perkalian 2 bilangan cacah susun ke bawah dengan cara pendek seperti berikut.

            5

48

57

336

250

2836

1

24

4

86

34

2

68

2

27

4

88

2

18

3

34

2

46

24

184

102

1204

 

 

 

 

         28

4

202

Demikian juga Marks (1985:119) menyatakan bahwa banyak guru melaporkan tentang muridnya yang tidak dapat memberikan jawaban yang benar untuk soal seperti:

 

 

 

Jalan pikiran pengerjaan itu adalah: 4 ´ 8 = 32 ditulis 2 memindah 3 puluhan. Maka 3 puluhan ditambah 2 puluhan (dalam 28) menjadi 5 puluhan, dan 4 ´ 5 puluhan adalah 20 puluhan, sehingga hasilnya 202.

Berdasar pengalaman di lapangan terungkap bahwa   penyebab  permasalahan tersebut muncul antara lain adalah:

  • siswa tidak hafal fakta dasar perkalian dan guru melaksanakan pembelajaran hanya dengan lisan dan mencongak sehingga membosankan dan menakutkan;
  • guru melakukan pembelajaran perkalian susun ke bawah cara pendek dengan hanya memberikan algoritma (langkah-langkah pengerjaan) secara mekanik atau hafalan.

Berdasar hal tersebut di atas, maka diperlukan suatu kejelasan tentang penyebab kesalahan siswa dalam mengerjakan perkalian susun ke bawah cara pendek, dan alternatif pemecahannya dalam suatu pembelajaran yang menekankan pada pemahaman proses. Pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan cara melibatkan siswa secara aktif dalam suatu kegiatan  PTK, yang menekankan pada penggunaan pendekatan konstruktivis dan teori Bruner yaitu: enaktif, ekonik dan simbolik.

Pendekatan konstruktivis menurut pandangan Hudoyo (1998:2-6) adalah belajar yang menekankan pada proses aktif membangun makna. Sehingga pengetahuan yang terdiri dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip terkait satu sama lain bagaikan jaring laba-laba. Belajar matematika merupakan proses membangun/mengkonstruksi dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tidak sekedar penggrojokan yang terkesan pasif dan statis, namun belajar itu harus aktif dan dinamis.

Bruner (dalam Orton, 1992:151) menyatakan bahwa siswa dalam belajar konsep matematika melalui 3 tahap yaitu enaktif, ekonik, dan simbolik. Tahap enaktif yaitu tahap belajar dengan memanipulasi benda atau obyek konkrit, tahap ekonik adalah tahap belajar dengan menggunakan gambar, dan tahap simbolik adalah tahap belajar matematika melalui manipulasi lambang atau simbol.

B.    Fokus masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka akan dilakukan PTK dengan memfokuskan pada penyebab kesalahan siswa dalam mengerjakan perkalian susun ke bawah dengan cara pendek, yaitu menentukan sebab kesalahan siswa dengan memeriksa setiap kesalahan. Berdasar penyebab kesalahan-kesalahan tersebut dilakukan usaha untuk memperbaikinya dalam pembelajaran.

C.    Rumusan Masalah

Sesuai dengan fokus penelitian di atas, maka dapat disusun rumusan masalah yang diajukan menjadi pertanyaan sebagai berikut.

1.     Apa saja yang menjadi penyebab kesalahan siswa pada perkalian susun ke bawah dengan cara pendek?

2.     Strategi pembelajaran apa yang dapat dilakukan untuk memberi motivasi sehingga dapat memperbaiki penyebab kesalahan siswa tersebut?

D.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan fokus permasalahan di atas, maka tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.     Mendiskripsikan penyebab kesalahan siswa pada perkalian susun ke bawah dengan cara pendek.

2.     Mencari strategi pembelajaran yang dapat memberi motivasi kepada siswa dalam perkalian susun ke bawah dengan cara pendek di kelas IV SD.

E.     Hipotesis Tindakan

1.     Dengan menggunakan tes, wawancara, kuesioner dapat mengungkap penyebab kesalahan siswa pada perkalian susun ke bawah dengan cara pendek.

2.     Strategi pembelajaran yang menekankan pada pendekatan konstruktivis dan teori Bruner yang mengaktifkan siswa dalam belajar, akan dapat memotivasi dan memahami perkalian susun ke bawah dengan cara pendek.

F.     Manfaat Penelitian

1.     Mengungkap kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tentang perkalian susun ke bawah dengan cara pendek.

2.     Strategi pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis dan teori Bruner dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam perkalian susun ke bawah dengan cara pendek.

G.    Kajian Pustaka

1.     Kesalahan-kesalahan umum dalam penyelesaian perkalian susun ke bawah cara pendek berdasar temuan-temuan yang lalu dan alternatif pemecahannya.

2.     Pendekatan konstruktivis dan teori Bruner serta keunggulannya dalam pembelajaran.

3.     Teori diagnosis dan remidi dalam pembelajaran.

4.     Pembelajaran perkalian susun ke bawah cara pendek yang mengacu pada pendekatan konstruktivis dan teori Bruner.

H.    Metode Penelitian

1.     Langkah-langkah

a.      Studi pendahuluan (refleksi awal)

b.     Penyusunan perencanaan

c.      Pelaksanaan tindakan

d.     Observasi (pengamatan)

e.      Refleksi

2.     Kualitatif tindakan kelas kolaboratif

3.     Pengumpulan data melalui:

a.      observasi

b.     tes awal dan akhir pembelajaran

c.      tes dalam proses pembelajaran

d.     wawancara awal dan akhir pembelajaran

e.      catatan lapangan

I.      Rencana Tindakan

Rencana tindakan yang akan dilakukan terdiri dari 2 pembelajaran, yang terdiri dari beberapa siklus tergantung dari hasil yang dicapai siswa. Siklus akan berhenti bila siswa telah mencapai hasil belajar optimal dengan nilai lebih dari 80.

Tindakan 1 yaitu pembelajaran fakta dasar perkalian dengan metode permainan.

Pembelajaran tindakan yang akan dilaksanakan direncanakan dengan permainan kartu perkalian, mencongak, dan menghafal fakta dasar perkalian.

Tindakan 2 membahas tentang perkalian susun ke bawah cara panjang dan pendek dengan pendekatan konstruktivis dan teori Bruner. Rencana tindakan dalam bentuk RPP dilampirkan dalam proposal ini. Pembelajaran tindakan yang akan dilaksanakan direncanakan  mengacu pada teori Kennedy (1994:360-366) dan Troutman (1991:113-114) yaitu: (1) menaksir hasil perkalian, (2) konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang, (3) perkalian diperagakan dengan menggunakan benda konkret berdasar baris (bila diperlukan), (4) visualisasi perkalian ke dalam bentuk gambar, (5) pemisahan kelompok ratusan, puluhan, dan satuan berdasar kolom, puluhan dan satuan berdasar basis dari gambar, (6) menentukan kalimat penjumlahan dan perkalian dari setiap kelompok gambar, (7) menentukan hasil perkalian susun ke bawah dengan cara panjang yang dikaitkan dengan gambar, dan algoritmanya secara singkat, (8) menentukan hasil perkalian susun ke bawah dengan cara pendek yang dikaitkan dengan gambar, dan algoritmanya secara singkat.

Rencana tindakan yang akan dilaksanakan dalam PTK bertujuan untuk melatih siswa agar:

  1. Terampil dan menguasai fakta dasar perkalian, perkalian dengan bilangan puluhan dan ratusan ( tindakan 1).
  2. Mampu menafsirkan hasil perkalian secara kasar terutama untuk perkalian yang menggunakan bilangan besar (tindakan 2).
  3. Dapat menggunakan sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan dan dapat memperagakannya dengan menggunakan media pembelajaran, antara lain menggunakan petak persegi atau lidi (tindakan 2).
  4. Menguasai nilai tempat, dan dapat memindahkan tempat bilangan dari kanan ke kiri dan sebaliknya (tindakan 2).
  5. Menguasai algoritma perkalian susun ke bawah cara pendek (tindakan 2

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Karya Tulis Ilmiah – Produk Pengembangan Kurikulum Sekolah dasar dan Pengembangan Rencana Belajar

 

Karya Tulis Ilmiah

 

PRODUK PENGEMBANGAN KURIKULUM

SEKOLAH DASAR DAN PENGEMBANGAN

RENCANA PEMBELAJARAN

 

 

DISUSUN UNTUK MELENGKAPI TUGAS

MATA KULIAH SEMESTER VII

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DI SUSUN OLEH:

SULASTRI SUSILAWATI

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PJJ UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA – BOGOR

TAHUN 2011


KATA­­­­­­­­­­­­­ PENGANTAR

 

 

 

Assalamualaikum Wr. Wb

Dengan mengucap syukur alhamdulillah kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga karya ilmiah ini dapat terwujud.

Karya ilmiah ini dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah dan alhamdulillah telah selesai disusun meskipun di bawah standar sempurna.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat sangat penulis harapkan demi di masa yang akan datang.

Hasil pendidikan yang bermutu adalah siswa sehat, mandiri, dan berbudaya. Berakhlak mulia, bekerja keras, berpengetahuan dan menguasai teknologi serta cinta tanah air.

Semoga ini sangat bermanfaat dan berguna….. Amin.

 

 

 

 

Jasinga,   Juni 2011

 

 

 

 

Penulis

i


DAFTAR ISI

 

 

 

 

Halaman

Kata Pengantar………………………………………………………………        i

Daftar Isi………………………………………………………………………        ii

A.     Latar Belakang……………………………………………………………..        1

B.     Produk Pengembangan Kurikulum………………………………………..        2

1.      Landasan Kurikulum……………………………………………………        2

2.      Tujuan dan Program………………………………………………….        2

3.      Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)…………………….        4

4.      Pedoman Pelaksanaan dan Penilaian…………………………………        4

C.     Program Pembelajaran…………………………………………………….        4

1.      Analisis Materi Pelajaran……………………………………………….        5

2.      Program caturwulan/semester……………………………………….        5

3.      Persiapan mengajar……………………………………………………        6

D.     Pengembangan Rencana Pembelajaran…………………………………        6

E.      Hakikat Pengembangan Rencana Pembelajaran………………………..        6

1.      Hubungan kurikulum dan Pembelajaran……………………………..        7

2.      Pengertian Rencana Pembelajaran…………………………………..        7

3.      Karakteristik Rencana Pembelajaran…………………………………        7

4.      Model Pengembangan Rencana Pembelajaran……………………..        8

F.      Prosedur Pengembangan Rencana Pembelajaran………………………        9

ii

 

 


 

A.     Latar Belakang

Perkembangan kurikulum sekolah dasar di Indonesia sangat berkaitan dengan perkembangan pendidikansecara nasional dari waktu ke waktu. Sebelum masa kemerdekaan, tujuan dan isi kurikulum sekolah dasar lebih ditekankan kepada pemenuhan kepentingan-kepentingan para penjajah. Baru setelah Indonesia merdeka, terdapat upaya-upaya bagi perbaikan dan penyempurnaan. Tujuan dan isi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab bagi kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

Kurikulum SD tahun 1968 bisa disebut merupakan kurikulum transisi antar masa orde lama dengan masa orde baru. Banyak perubahan yang terjadi, diantaranya isi kurikulum dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu kelompok pembinaan jiwa pancasila, kelompok pembinaan pengetahuan dasar, dan kelompok pembinaan kecakapan khusus. Sesuai dengan munculnya gagasan-gagasan baru dalam pelaksanaan sistem pendidikan maka kurikulum SD 1968 dianggap sudah tidak sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu dan muncullah kurikulum SD tahun 1975 yang merupakan tonggak pembaharuan yang nyata dan mantap dalam sistem pendidikan nasional. Kurikulum SD tahun 1975 lebih diarahkan untuk mencapai keselarasan dengan kebijakan baru bidang pendidikan, peningkatan efisiensi dan efektivitas, peningkatan mutu lulusan, dan peningkatan relevansi dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun.

Pada perkembangan berikutnya, terjadi perubahan atau perbaikan kurikulum SD 1975 menjadi kurikulum SD 1984. Pada dasarnya tidak banyak perbedaan dari segi isi kurikulum, yang banyak berbeda adalah organisasi pelaksanaanya sehingga kurikulum SD 1984 dapat dilaksanakan dengan menggunakan bahan-bahan dan buku-buku serta saran yang ada. Kemudian muncul Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional mempengaruhi pembaharuan kurikulum sekolah dasar di Indonesia. Kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1994 disusun dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Kurikulum pendidikan dasar yang berkenaan dengan sekolah dasar menekankan kemampuan dan keterampilan dasar baca-tulis-hitung, sebab kemampuan tersebut merupakan kemampuan awal yang akan mempengaruhi kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih jauh.

 

 

B.     Produk Pengembangan Kurikulum

Seorang guru perlu memahami visi dan misi yang didesain melalui produk pengembangan kurikulum yang dihasilkan sehingga dengan pemahaman tersebut guru mampu melaksanakannya secara optimal meskipun diakui bahwa dalam pelaksanaan suatu kurikulum diperlukan improvivasi mengingat banyaknya kondisi-kondisi yang bersifat situasional yang tidak terakomodasi dalam kurikulum tertulis (idea/potentional curriculum).

1.      Landasan Kurikulum

Kurikulum pendidikan dasar disusun dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional yang sudah dirumuskan dalam UU No.2 tahun 1989 yaitu, bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab ke masyarakat dan kebangsaan.

2.      Tujuan dan Program

Suatu tujuan memberikan petunjuk mengenai arah perubahan yang dicita-citakan dari suatu kurikulum yang sifatnya harus merupakan suatu yang pinal. Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan isi/contens, strategi dan media pembelajaran, serta prosedur dan alat evaluasi, bahkan dalam berbagai model pengembangan kurikulum.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan kurikulum berbasis kopetensi (KBK), pusat kurikulum (2002) mengemukakan bahwa tujuan penyelenggaraan SD adalah untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai dasar-dasar karakter, kecakapan, keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal sehingga memiliki ketahanan dan keberhasilan dalam pendidikan lanjutan atau dalam kehidupan yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Mata pelajaran adalah satu atau sekumpulan bahan kajian dan bahan pelajaran yang memperkenalkan konsep, pokok bahasan, tema, dan nilai yang dihimpun dalam satu kesatuan disiplin/ ilmu pengetahuan. Isi program pengajaran pada tingkat sekolah dasar memuat mata pelajaran sebagai berikut :

a)     Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan

b)     Pendidikan agama

c)      Bahasa Indonesia

d)     Matematika

e)     Ilmu Pengetahuan Alam

f)       Ilmu Pengetahuan Sosial

g)     Kerajinan tangan dan Kesenian

h)     Pendidikan jasmani dan Kesehatan

i)        Muatan Lokal

Berkenaan dengan mata pelajaran yang menjadi isi kurikulum, terhadap perbedaan mata pelajaran yang menjadi isi pada kurikulum 1994 dengan KBK. Menurut pusat kurikulum (2002), struktur kurikulum pada tingkat sekolah dasar terdiri dari mata pelajaran berikut :

a)     Pendidikan agama

b)     Kewarganegaraan

c)      Bahasa Indonesia

d)     Matematika

e)     Sains

f)       Pengetahuan Sosial

g)     Kesenian

h)     Keterampilan

i)        Pendidikan jasmani.

Contoh tabel

Struktur Program Kurikulum SD 1984

No

Mata pelajaran

Kelas

I

II

III

IV

V

VI

1

Pendidikan Agama

2

2

2

2

2

2

2

Pendidkan Moral pancasila

2

2

2

2

2

2

3

Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 1)

1

1

1

1

1

1

4

Bahasa Indonesia 2)

8/7

8/7

8/7

8/7

8/7

8/7

5

Matematika

2

3

3

3

6

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

6

6

6

6

6

6

7

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

2

2

3

4

4

4

8

Olahraga dan Kesehatan

2

2

3

3

3

3

9

Pendidikan kesenian

2

2

3

4

4

4

10

Keterampilan Khusus

2

2

4

4

4

4

11

Bahasa Daerah 3)

(2)

(2)

(2)

(2)

(2)

(2)

Jumlah jam pelajaran/Minggu

26 (28)

26 (28)

33 (35)

36 (38)

36 (38)

36 (38)

Keterangan :

1)   Diberikan pada setiap caturwulan ke-3

2)   Pada caturwulan 1 dan 2 (8jam), caturwulan 3 (7jam)

3)   Bagu daerah atau sekolah yang memberikan pelajaran bahasa daerah

3.      Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)

Dalam kurikulum pendidikan dasar tahun 1994 yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Sekolah Dasar diklasifikasikan dalam bentuk buku kurikulum sesuai dengan tingkatan kelas yang ada di sekolah dasar (6 kelas). Masing-masing buku kurikulum berisi GBPP setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar. GBPP setiap mata pelajaran ini memuat dua bagian, yaitu bagian pendahuluan dan bagian profram pengajaran.

Bagian I : Pendahuluan, berisi ;

a)     Pengertian dari masing-masing mata pelajaran

b)     Fungsi yang dilemban oleh masing-masing mata pelajaran

c)      Tujuan yang ingin dicapai setelah mempelajari masing-masing mata pelajaran

d)     Ruang lingkup materi yang dikaji dalam masing-masing mata pelajaran

e)     Rambu-rambu yang harus diperhatikan dan dipahami guru dalam melaksanakan GBPP masing-masing mata pelajaran.

Bagian II : Program Pengajaran, berisi ;

a)     Caturwulan dan alokasi waktu yang direncanakan

b)     Tujuan pembelajaran umum yang ingin dicapai

c)      Materi/pokok/subpokok bahasan beserta uraian

4.      Pedoman Pelaksanaan dan Penilaian

Produk ini dari pengembangan kurikulum sekolah dasar adalah pedoman pelaksanaan dan penilaian. Pedoman ini akan menjadi acuan dalam melaksanakan kurikulum dan mengadakan penilaian.

Contoh pedoman pelaksanaan dokumen kurikulum pendidikan dasar tahun 1994 diantaranya :

a)     Waktu belajar

b)     Sistem guru

c)      Perencanaan kegiatan belajar

d)     Bahasa pengantar

e)     Sistem pengajaran

f)       Bimbingan belajar dan bimbingan karier

g)     Penilaian

 

C.     Program Pembelajaran

Ada program yang mencakup seluruh masa belajar, yaitu enam tahun, namun ada juga program yang lebih singkat, yaitu program tahunan, caturwulan/semester, program mingguan atau program harian. Secara hierarkis hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

G B P P

 

 

PROGRAM CATURWULAN/SEMESTER

 

 

PERSIAPAN MENGAJAR

 

 

PROSES PEMBELAJARAN

(Gambar kaitan program dan proses pembelajaran)

  1. Analisis Materi Pelajaran

Dalam menganalisa materi pelajaran perlu dipertimbangkan beberapa aspek berikut :

a)     Kesesuaian dengan pencapaian tujuan pembelajaran

b)     Kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa pada umumnya

c)      Kesinambungan atau kontinuitas materi satu dengan materi lainnya

d)     Kesesuaian dengan kenyataan-kenyataan sosial

e)     Keseimbangan dalam hal kedalaman dan keleluasaan (scope)

f)       Urutan penyajian materi pelajaran (sequence)

  1. Program caturwulan/semester

Program caturwulan/semester merupakan program yang harus dilaksanakan pada periode waktu belajar tertentu, yaitu sekitar 3-4 bulan. (Program caturwulan) atau 6 bulan (Program semester). Sedangkan yang menjadi isi dari program adalah apa yang ada dalam GBPP suatu mata pelajaran.

Contoh :

Program caturwulan

Mata Pelajaran         :         PKn

Kelas/Caturwulan       :         V (lima)/2 (dua)

Tema/Subtema

Alokasi Waktu (Jam)

PELAKSANAAN BULAN/MINGGU

KET

JANUARI

PEBRUARI

MARET

APRIL

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

A.    Menetapkan rukun hidup

  • Keluarga (ayah, ibu, anak) dan keluarga besar (ayah, ibu, anak, kakek dan nenek).
  • Memperkenalkan identitas diri di depan kelas.
 

 

 

6 jam

 

 

 

×

 

 

 

×

 

 

 

×

                           
B.  Kerukunan beragama

  • Menjelaskan sikap rukunnya dengan teman sekolah yang berbeda agama dan suku dengannya.
 

 

 

 

6 jam

         

 

 

 

×

 

 

 

 

×

 

 

 

 

×

                   
Dst. 12 Jam                 × × ×   × × ×    
Tes dan latihan 8 Jam       ×       ×       ×       ×  
Cadangan 2 Jam                                  
jumlah 34 Jam                                  
Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

…………………..

NIP.

………, ………………..20…..

Guru ybs,

 

 

 

…………………..

NIP

 

 

  1. Persiapan Mengajar

Persiapan mengajar merupakan hasil dari pengembangan program pembelajaran jangka pendek. Beberapa langakah umum dalam menyusun dan membuat persiapan mengajar berdasarkan PPSI.

Perumusan Tujuan

Pembelajaran Umum

atau Perumusan Kompentensi Dasar

Langkah 1.a

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Gambar : prosedur persiapan mengajar)

 

D.    Pengembangan Rencana Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Komponen tersebut adalah tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Dari keempat komponen pembelajaran tersebut, tujuannya dijadikan fokus utama pengembangan, artinya ketiga komponen lainnya harus dikembangkan dengan mengacu pada komponen tujuan.

 

E.     Hakikat Pengembangan Rencana Pembelajaran

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Secara visual konsep dasar pembelajaran dapat digunakan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran

Kurikulum sebagai program atau rencana yang dicita-citakan, sedangakan pembelajaran sebagai kurikulum aktualnya atau dengan kata lain pembelajaran sebagai implementasi dari rencana yang sudah ditetapkan.

Pophan and Baker (1970) menyatakan bahwa kurikulum adalah tujuan akhir dari program pembelajaran yang direncanakan oleh sekolah, sedangkan pembelajaran adalah cara mencapai tujuan tersebut. Lebih jelas lagi Olivia (1992) menggambarkan hubungan antara kurikulum dan pembelajaran dalam suatu model yang disebut the cyclical.

 

 

 

 

 

 

  1. Pengertian Rencana Pembelajaran

Rencana pembelajaran merupakan kegiatan merumuskan tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai oleh suatu kegiatan pembelajaran, cara apa yang digunakan untuk menilai pencapaian tujuan tersebut, materi atau bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya atau alat apa yang diperlukan untuk mendukung pelaksaan pembelajaran tersebut.

 

  1. Karakteristik Rencana Pembelajaran

Ada beberapa karakteristik yang dapat dijadikan pertimbangan tatkala kita menyusun suatu rencana pembelajaran, yaitu :

a)     Ditujukan untuk siswa

b)     Memiliki beberapa tahapan

c)      Sistematis

d)     Pendekatan sistem

e)     Didasarkan pada proses belajar manusia

 

  1. Model Pengembangan Rencana Pembelajaran

Banyak model yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan rencana pembelajaran, diantaranya :

a)     Model Banathy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b)     Model Kemp

Model pengembangan instruksional menurut Kemp (1997), atau yang disebut desain instruksional, terdiri atas delapan langkah, yaitu sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c)      Model PPSI

Ada lima langkah pokok dalam PPSI, yaitu merumuskan tujuan instruksional (TIK), menyusun alat evaluasi, menentukan kegiatan belajar dan materi, merencanakan program kegiatan, dan melaksanakan program.

 

F.     Prosedur Pengembangan Rencana Pembelajaran

Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan rencana pembelajaran adalah adanya perumusan tujuan pembelajaran yang merupakan target yang ingin dicapai oleh kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dijabarkan dari yang paling tinggi tingkatannya kepada yang paling operasional. Secara rinci hierarki digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan

Pembelajaran/Instruksional

 

 

 

Gambar : Hieraki Tujuan

 

Berkaitan dengan pengembangan rencana pembelajaran, ada beberapa kasus yang dapat diungkapkan, antara lain sebagai berikut :

  1. Sikap guru dan administrator
  2. Aspek-aspek yang sering dianggap bermasalah
  3. Contoh kasus

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Agenda Mengajar (7-12 Februari 2011)

HARI/TANGGAL WAKTU KEGIATAN Senin, 7-02-2011 06.45 Tiba di sekolah   06.50 Mengisi daftar hadir   06.50-06.55 Persiapan Upacara   07.00-07.40 Melaksanakan Upacara Bendera   07.45-07.55 Mengkondisikan kelas dan mengisi absensi siswa   07.55-09.00 Memberikan materi pelajaran Bahasa Indonesia : Tema  … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment